Tentang Tondok Bakaru
"Dekat dari kota dan merupakan pintu masuk Taman Nasional Gandang Dewata. Tondok Bakaru menawarkan banyak pilihan. Ratusan anggrek endemik Mamasa ada di sini. Selain itu, Hoya dan tanaman hias lainnya melengkapi Tondok Bakaru."
Tondok Bakaru merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat. Desa ini terletak tepat di bawah kaki Gunung Mambulilling yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Barat. Desa Tondok Bakaru adalah desa terakhir sebelum memasuki Taman Nasional Gandang Dewata. Sebelumnya, perkampungan ini merupakan perkampungan tua bagian dari kehadatan Rambu Saratu. Desa ini memiliki 6 Dusun dengan jumlah penduduk 2386 jiwa, mayoritas penduduknya merupakan petani. Dengan bentangan alam yang luas menjadikan Desa Tondok Bakaru miliki potensi pariwisata yang cukup besar.

Desa Tondok Bakaru berjarak sekitar 1 kilometer dari Ibukota Kabupaten Mamasa, rute menuju Desa ini dapat dilalui dengan menggunakan sepeda motor, mobil, maupun bus pariwisata dengan waktu tempuh sekitar 5 menit dari kota Kabupaten Mamasa. Jaraknya yang cukup dekat dan mudah dijangkau, menjadikan desa ini sebagai salah satu destinasi andalan di Kabupaten Mamasa.

Uniknya, selain keindahan alamnya, Tondok Bakaru bisa disebut sebagai destinasi lengkap karena tak hanya indah secara visual, namun juga beragam atraksi dan spot yang ditawarkan, seperti seni, kerajinan, botani, agrowisata, dan budaya. Banyaknya varian atraksi yang ditawarkan bisa menjadi salah satu alasan wisatawan untuk berkunjung dari semua segmentasi.

Rumah-rumah tradisional dari berbagai ukuran masih berdiri kokoh di perkampungan, peninggalan budaya dan tradisi juga masih bisa dijumpai di desa ini. Tinggal di rumah adat adalah salah satu atraksi yang ditawarkan. Bukan hanya tinggal, tetapi mengetahui dan mempelajari budaya Mamasa juga bisa dilakukan dengan atraksi diskusi budaya. Sanggar-sanggar seni aktif bergerak untuk pelestarian budaya. Representasi dari wajah Mamasa bisa kita lihat di sini.

Tanaman endemik seperti anggrek, hoya, dan tanaman hias lainnya bisa kita jumpai di sini. Penangkaran tanaman-tanaman khas ini ada di halaman rumah warga. Anggrek adalah icon Desa Tondok Bakaru, karena tanaman ini Tondok Bakaru bergerak menjadi desa wisata.

Anggrek Merupakan Andalan
Sejak tahun 2017 sejumlah pemuda di Desa Tondok Bakaru memulai budidaya tanaman anggrek andemik Mamasa hal itu dilakukan guna mendorong perekonomian masyarakat di desa, pembudiyaan tanaman anggrek ini terus berkembang dari tahun ke tahun hingga semakin banyak warga dan pemuda di desa ini yang melakoni pekerjaan sebagai pembudidaya tanaman anggrek, hingga akhirnya mereka terhimpun dalam sebuah komonitas pembudidaya anggrek yang disebut Komunitas Tondok Bakaru Orchid (KTO) pada tahun 2018, hingga tahun ini 2022 jumlah anggota komunitas KTO berjumlah 15 orang yang dimotori oleh sejumah pemuda desa, setidaknya sudah ada sekitar 10 kebun anggrek di desa ini sekaligus bisa menjadi tempat wisata edukasi untuk tanaman anggrek.

Bisa kita sebut jika anggrek adalah pemantik terbentuknya desa wisata ini, dari perburuan anggrek, kemudian menjadi budidaya anggrek, dan akhirnya memicu kreatifitas masyarakat untuk membangun dan mengelola beberapa spot yang dibuat secara mandiri. Akhirnya, kesadaran masyarakat untuk bertumbuh dari sektor pariwisata terbangun dengan sendirinya dan menjadi pondasi dasar desa ini menuju desa wisata berkelanjutan.

Terbentuknnya kelomppok budidaya anggrek menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat di Todok Bakaru. Penjualan anggrek dan tanaman hias mengubah perputaran ekonomi masyarakat, apalagi saat pandemi mulai masuk. Ratusan juta omset terdata dari pejualan ini. Namun, maraknya penjualan anggrek endemik melahirkan masalah baru, anggrek endemik Mamasa terancam habis di habitatnya. Karena masalah itu, komunitas berinisiatif untuk mengubah pola penangkaran dan penjualan. Dengan kerja sama berbagai pihak, diharapkan budidaya anggrek bisa berkelanjutan. Bank Indonesia, salah satu yang terlibat dalam proyek ini.

Laboratorium anggrek didirikan melalui Bank Indonesia. Ini bertujuan agar anggrek-anggrek endemik Mamasa bisa disilangkan melalui kultur jaringan, sehingga akan melahirkan varietas baru. Setelah berhasil, anggrek endemik akan tetap berada di Tondok Bakaru atau juga dikembalikan ke habitatnya. Hasil silangan inilah yang nantinya akan dijual ke luar Mamasa. Bagi pecinta tanaman yang ingin melihat anggrek endemik, bisa berkunjung langsung ke Tondok Bakaru sebagai salah satu atraksi wisatadan eduwisata.

Anggrek dan tanaman endemik lain juga mendorong atraksi eduwisata bagi para pecinta tanaman, peneliti, ataupun pelajar. Anak-anak sekolah didorong untuk mengenali tanaman pada atraksi eduwisata anggrek.